16
Mar
10

Saat Memaafkan Lebih Mulia, Saat Dendam Bukan Jawaban (Sekali Lagi Kehilangan Anggota Keluarga)

Aku punya sifat pendendam, dan terkadang aku memaafkan diriku atas sifatku itu. Tapi sekarang tidak lagi. Bahkan mungkin untuk selamanya. Mulai sekarang, akan kuusahakan untuk menghilangkan sifat itu.

Tanggal 15 Maret 2010 Jam 23.30 WIB, tiba-tiba aku dan keluargaku mendengar kabar duka. Kami kehilangan seorang anggota keluarga lagi. Anggota keluarga yang baru beberapa bulan saja memasuki kehidupan keluarga bibiku dan keluarga besar kami.

Awal mulanya sikapku berada di tengah-tengah,  antara setuju dan tidak setuju dengan keputusan bibiku yang menikah lagi dan rela dimadu, walau sebagian besar anggota keluargaku tidak setuju. Pada akhirnya pun kami memutuskan tidak ikut campur dengan keputusan bibiku.

Sampai pada suatu kejadian, aku diperlakukan tidak mengenakan oleh pamanku itu (Sebenarnya kejadiannya sederhana, saat acara kumpul keluarga aku dan keluarga tidak dipedulikan olehnya, lebih tepatnya tidak digubris keberadaannya. Aku yang pada dasarnya punya sifat gampang sakit hati ini, menjadi kesal). Sehingga aku pun juga tidak menggubrisnya jika dia datang.

Pada saat paman dan bibiku itu beserta sepupu-sepupuku datang ke rumahku, aku yang sudah terbiasa tidak menggubrisnya, menjadi benar-benar tidak lagi menggubrisnya. Padahal dia punya niat baik untuk datang ke rumah. Ada sedikit rasa menyesal atas sikapku itu.

Dan penyesalanku pun semakin besar ketika mendengar kabar itu.

Bibiku mengalami dua kali kehilangan orang yang dicintainya.

Ya Allah, maafkan atas sifat pendendamku ini.

Memang benar, memaafkan terlebih dahulu (tanpa seseorang meminta maaf lebih dulu) atau memulai pembicaraan dengan sahabat lama (tanpa menunggu sahabat lama yang memulai lebih dulu) itu lebih baik, karena umur seseorang siapa yang tahu.

Mungkin kita akan meninggal lebih dulu tanpa melakukan itu semua, sehingga kita menyesal. Mungkin juga orang tersebut akan meninggal lebih dahulu dari kita, dan kita pun akan menyesal.

Jadi lakukan sekarang juga, sebelum semua menjadi terlambat. Kepada orang yang pernah menyakitimu atau sahabat lama yang sudah lama tidak menghubungimu.


2 Responses to “Saat Memaafkan Lebih Mulia, Saat Dendam Bukan Jawaban (Sekali Lagi Kehilangan Anggota Keluarga)”


  1. March 19, 2010 at 8:11 am

    jd kesindir gw nid, hahaha..
    secara gw jg agak pendendam keknya.. :D
    tapi bismillah ah..
    insya4w1 bisa koq kita perbaiki..
    yuk.. yuk.. yuk.. ;)

  2. 2 nidahr
    March 19, 2010 at 8:04 pm

    hehehhehehehhehhe
    yuk..yuk…yuk… :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.